Portal berita terkini yang menyajikan berita terbaru di Borneo maupun skala Nasional. Dapatkan update berita hari ini.

"Dari Slogan ke Diagnosis": Hendra Ajak Kader KAMMI Banjarmasin Berpikir Sistemik dalam Membaca Persoalan Umat

dari-slogan-ke-diagnosis-hendra-ajak-kader-kammi-banjarmasin-berpikir-sistemik-dalam-membaca-persoalan-umat

Banjarmasin — Kajian kaderisasi bertajuk "Dari Slogan ke Diagnosis" digelar di lingkungan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Banjarmasin dengan menghadirkan Hendra, anggota DPRD Kota Banjarmasin, sebagai pemateri. Dalam forum tersebut, Hendra mengajak para kader untuk keluar dari pola pikir yang hanya berhenti pada jargon dan slogan, menuju cara berpikir yang mampu mendiagnosis akar masalah secara utuh.

Mengawali paparannya, Hendra menyoroti pentingnya systems thinking atau berpikir sistemik dalam melihat persoalan sosial, ekonomi, maupun politik. Menurutnya, banyak gerakan dan individu terjebak pada respons instan terhadap gejala permukaan, tanpa memahami keterkaitan antar-faktor yang membentuk sebuah masalah secara struktural.

"Slogan itu mudah diucapkan, tapi tidak selalu lahir dari pemahaman yang utuh. Seorang kader dakwah dan perubahan harus mampu menembus permukaan, membaca sistem yang bekerja di baliknya," ujar Hendra di hadapan peserta kajian.

Ia juga mengingatkan bahaya indoktrinasi tanpa nalar kritis, yang menurutnya dapat membuat kader kehilangan daya analisis dan hanya menjadi penerus narasi tanpa verifikasi. Hendra mendorong para kader untuk membangun sudut pandang (perspective) yang beragam dan terbuka sebelum mengambil kesimpulan, serta membiasakan fact-based thinking — cara berpikir yang berpijak pada fakta dan data, bukan asumsi maupun opini yang belum teruji.

Metode 5A sebagai Alat Diagnosis

Sebagai inti dari materinya, Hendra memperkenalkan metode 5A sebagai kerangka kerja praktis untuk menilai suatu masalah maupun kondisi masyarakat secara lebih mendalam dan terstruktur. Kelima tahapan tersebut adalah:

  1. Amati — mengumpulkan fakta di lapangan dan memisahkannya secara tegas dari asumsi pribadi.

  2. Aktor — mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam persoalan tersebut.

  3. Agenda — memahami kepentingan yang bermain di balik suatu isu atau kebijakan.

  4. Akar — menelusuri faktor penyebab mendasar, bukan sekadar gejala yang tampak di permukaan.

  5. Aksi — merancang bentuk intervensi atau langkah nyata berdasarkan hasil diagnosis dari empat tahap sebelumnya.

Hendra menegaskan bahwa metode ini penting agar gerakan mahasiswa tidak terjebak pada aktivisme yang reaktif dan simbolik, melainkan mampu menghadirkan solusi yang tepat sasaran.

"Diagnosis yang keliru akan melahirkan solusi yang keliru pula. Karena itu, sebelum bertindak, kita wajib memastikan bahwa kita benar-benar memahami akar persoalannya," tegasnya.

Kajian ini mendapat antusiasme dari para kader yang hadir, yang menilai materi tersebut relevan sebagai bekal berpikir kritis di tengah kompleksitas persoalan sosial-politik saat ini. Kegiatan diharapkan menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas intelektual kader KAMMI Kota Banjarmasin dalam merespons dinamika masyarakat secara lebih matang dan berbasis data.

Redaksi: M. Iqbal Hisyam Qiroth

Tags : #KAMMI #DM2 #Banjarmasin #Banjarbaru #Palangkaraya #DPRD Banjarmasin
Bagikan :

© PT Media Borneo Kekinian . All Rights Reserved. Design by HTML Codex