Portal berita terkini yang menyajikan berita terbaru di Borneo maupun skala Nasional. Dapatkan update berita hari ini.

Kebebasan Berekspresi atau Kebablasan?

kebebasan-berekspresi-atau-kebablasan

Pernahkah terlintas di pikiran kita, di mana sebenarnyabatas antara "kebebasan berekspresi" dan"kebablasan"? Di tengah gempuran narasi open-mindedhari ini, isu LGBT sering kali dibungkus rapi lewatjargon-jargon yang terdengar memikat, seperti hakasasi, inklusivitas, hingga love is love. Jika tidak kritis, narasi-narasi ini perlahan bisa mengikis prinsippersonal kita karena adanya tekanan sosial berupaketakutan dicap kuno atau intoleran. Padahal, berpikirkritis yang sesungguhnya berarti beranimempertanyakan balik: apakah setiap tren yang mengatasnamakan kebebasan selalu mendatangkankebaikan, atau justru sebaliknya?

Argumen paling populer dari para pendukung gerakanini biasanya berbunyi, "Selama suka sama suka dantidak merugikan orang lain, kenapa harus dilarang?"Logika ini sekilas terdengar adil, namun sebenarnyasangat rapuh. Jika tolok ukur kebenaran dan hukumhanya disandarkan pada asas "suka sama suka", makabatasan moral di masyarakat akan runtuh. Secaralogika dasar, manusia diciptakan dengan sistembiologis dan psikologis yang berpasangan demi keberlangsungan generasi. Membengkokkan fungsialamiah ini dengan dalih hak individu adalah sebuahkekeliruan logika yang fatal. Kebebasan manusia selaludibatasi oleh hukum alam dan tatanan sosial agar tidakterjadi anarki moral. Jika semua keinginan personal harus diakomodasi atas nama hak, maka konsep normaitu sendiri akan kehilangan maknanya.

Bagi kita, tatanan moral ini bukan sekadar kesepakatansosial buatan manusia, melainkan ketetapan mutlakdari Sang Pencipta yang paling memahami blueprintmanusia. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT mengingatkanbagaimana penyimpangan ini melanggar batas fitrahyang suci, seperti yang termaktub dalam Surah Asy-Syu'ara ayat 165-166:

"Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antaramanusia (berbuat homoseksual), dan kamu tinggalkan(perempuan) yang diciptakan Tuhanmu untukmusebagai istri-istrimu? Kamu benar-benar orang-orang yang melampaui batas."

Nabi Muhammad SAW juga memberikan peringatantegas tentang pentingnya menjaga batasan yang jelasantara laki-laki dan perempuan demi menjaga tatanansosial yang sehat. Dalam sebuah hadis riwayatBukhari, disebutkan:

"Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupaiwanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." (HR. Bukhari)

Larangan-larangan ini hadir bukan untuk membatasikebahagiaan manusia, melainkan sebagai tindakanpreventif agar tatanan sosial, kesehatan, dan spiritual kita tidak rusak dari dalam. Solusinya adalah denganmeluruskan cara pandang kita: menyayangi sesamamanusia berarti berani mengingatkan ketika merekakeliru, bukan justru membenarkan kekeliruan tersebut.

Intinya, menjadi generasi muda yang modern dancerdas tidak harus membuat kita kehilangan identitasdan kompas moral. Kita tetap bisa menghargaikemanusiaan tanpa harus ikut-ikutan membenarkan halyang jelas melanggar batas syariat. Mulai sekarang, mari lebih selektif dalam menyaring tren yang masuk. Jangan sampai atas nama "toleransi", kita justrukehilangan arah dan melupakan batasan yang telahAllah tetapkan. Tetap pegang teguh prinsip, karenakebenaran tidak pernah diukur dari seberapa banyakorang yang mengikuti arus, melainkan darikesesuaiannya dengan petunjuk-Nya.


Ditulis : 
Andi Muhammad Afif Aditya
Staff Kebijakan Publik Komisariat Universitas Mulawarman

 

Tags : opini lgbt kaltim
Bagikan :
Get In Touch

Jl. Merdeka 3 No. 23, Rt. 86, Kec. Sungai Pinang, Kota Samarinda, Kode Pos : 75117

0895340878244

mediaborneokekinian@gmail.com

Follow Us
Kategori

© PT Media Borneo Kekinian . All Rights Reserved. Design by HTML Codex